Panggung Hidup Akhlis “de jamour crispy”
Merubah Cara Pandang terhadap Modal

Akhlis
Keterbatasan modal hampir selalu menjadi persoalan banyak orang ketika hendak menceburkan diri ke dunia usaha. Begitu pun ketika usaha telah berjalan dan si pengusaha mengangankan sebuah perluasan atau pengembangan, modal selalu dilihat sebagai faktor yang paling menentukan. Itulah mengapa anak-anak muda yang awalnya punya keinginan membangun usaha berhenti di tengah jalan. Ketiadaan modal menjadi alasan.
Kondisi tersebut ternyata tidak berlaku bagi Akhlis. Sarjana seni musik dengan minat utama gitar ini, lebih melihat keyakinanlah yang menjadi modal utama memulai dan mengembangkan usahanya. Ini bukan sekedar ungkapan klise untuk menyemangati orang lain. Akhlis sendiri telah melakukannya.
Ditemui suatu siang di salah satu lokasi usahanya, Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, awal Oktober 2009, pengusaha muda ini menceritakan bagaimana perjalannya menapaki dunia usaha hingga menjadi seperti sekarang. Selain bisnis jas almamater, sewaktu kuliah ia juga sempat menjadi guru les musik.
Setelah menikah, keinginannya menjadi pelaku usaha semakin menggebu. Bersama isterinya ia membuka warung siomay di garasi rumah kontrakannya. Usaha yang dijalaninya sepanjang tahun 2005-2007 ini tidak bisa dibilang sukses. “Paling sehari cuma satu dua orang yang beli,” katanya. Kondisi ini menjadikan modalnya tidak bisa kembali, sehingga ia tak mampu memperpanjang kontrak rumah yang ditinggali.
“Waktu itu pilihannya cuma pulang ke rumah orang tua atau ke rumah mertua,” kenang Akhlis. Sebab keluarga besarnya tak ada yang mau memberikan pinjaman uang untuk memperpanjang kontrak. Dalam keadaan bingung serba bingung tersebut ia membaca informasi di surat kabar tentang seleksi pelatihan UKM yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan DI Yogyakarta. Ia pun mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkannya pada panitia dengan mencantumkan alamat, nomor telepon sekaligus nomor fax.
Kegigihan dan keyakinan Akhlis ternyata mendatangkan hasil. Ia dihubungi oleh panitia, ditawari untuk menggantikan calon peserta lain yang mengundurkan diri. “Kata panitia kenapa saya yang terpilih karena ada nomor fax-nya. Jadi dianggap usaha saya bonafide,” ucapk Akhlis sambil tertawa.
Pelatihan ini seolah membuka jalan bagi Akhlis yang memang sudah berketetapan hati menjadi seorang pengusaha. “Saya percaya, inna ma’al ‘usri yusra, setelah kesulitan itu ada kemudahan,” katanya. Dalam pelatihan tersebut, ia berkenalan dengan seorang pengusaha yang kemudian menjadi pendukung Akhlis dalam hal permodalan. Tentu hal ini tidak terjadi begitu saja. Sebelum si pemilik mempercayakan pengelolaan modalnya, Akhlis terlebih dahulu harus menunjukkan bahwa apa yang akan ia tawarkan kepada masyarakat memiliki kekhasan. Dengan demikian produk tersebut layak mendapat perhatian masyarakat.
Dari sanalah Akhlis mulai membangun usahanya kembali. Dengan brand name “Siomay Bandung asli Kang Otong” usaha siomaynya berkembang dari satu kios pada tahun 2007, hingga tahun 2009 ini telah menjadi lima kios yang tersebar di Yogyakarta dan sekitarnya. Kekhasan yang ia tawarkan, yang membedakan dengan siomay lain adalah tidak digunakannya bumbu masak atau MSG. Dan itu ia tuliskan dalam tag line-nya, “lezatnya tanpa MSG”. Meski telah mengelola lima kios siomay, Akhlis masih berkeinginan mengembangkan lagi. “Targetnya ada 10 di Yogya ini,” jelasnya.
Meski ia masih mentargetkan membuka lima kios siomay lagi di kawasan Yogyakarta, tetapi jenis usaha baru telah mulai ia kembangkan. Keripik jamur aneka rasa. Memang Akhlis berkeinginan tidak hanya fokus pada satu jenis usaha saja. Ia ingin merambah berbagai jenis usaha, tentu tetap dengan segala ciri khususnya. Dari usaha yang ia rintis tersebut, Akhlis merancang sebuah bentuk waralaba. Dalam waktu dekat, ia berencana mewaralabakan keripik jamurnya yang berlabel “de jamour crispy”. “Gerobag lengkap dengan perlengkapan dan workshop bisnisnya sekitar Rp.6 juta rupiah,” jelasnya.
Nantinya pengelola usaha waralaba ini akan dibebaskan berinovasi sendiri sehingga masing-masing memiliki kekhasan. Namun tentu saja menu dasar jamur yang menjadi jualan utama “de jamour crispy” telah dikuasai. Waralaba kripik jamur inilah yang nantinya diharapkan mampu menampung hasil panen para petani yang saat ini masih kesulitan dalam hal pemasaran, dalam satu bentuk jaringan usaha.
Selain mengelola usaha, Akhlis juga terlibat aktif dalam komunitas pengusaha muda. Dengan penuh semangat ia menemani anak-anak muda yang ingin terlibat dalam dunia usaha. Tak hanya itu, Akhlis juga aktif di berbagai forum entrepreneurship di berbagai kota. Bahkan ia pernah menjadi nara sumber dalam pelatihan kewirausahaan bagi para dosen yang dilaksanakan atas kerja sama Departemen Pendidikan Nasional dengan pengusaha nasional Ciputra.
Selain berkeinginan terus mengembangkan usaha, Akhlis juga terobsesi membagi ilmu kewirausahaannya dengan teman-teman muda lainnya. Dengan sumber daya alam negeri kita yang melimpah, kesempatan untuk membuka usaha masih sangat terbuka, katanya. Hal ini tidak sebatas wacana. Sebab Akhlis bersedia turun, membantu mereka yang memang ingin terjun serius dalam dunia usaha. Dan memang inilah cita-cita tertingginya, membantu orang lain. (sta)
“de jamour crispy”
Keripik Jamur yang Funky

Gerobag Jamur
Keripik jamur tentu bukan hal baru bagi banyak orang. Terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar. Dapat dikatakan keripik jamur adalah makanan olahan dari bahan baku jamur yang paling populer di masyarakat. Kurang lebih sejak dua puluh tahunan lalu keripik jamur sudah mulai diproduksi oleh usaha-usaha rumahan. Terutama keripik jamur dari bahan baku jamur merang.
Belakangan keripik jamur semakin banyak diproduksi dan diminati masyarakat. Tak hanya dari bahan baku jamur merang saja, melainkan juga jamur kuping dan jamur tiram. Bahkan saat ini, keripik berbahan baku jamur tiram lebih mudah didapatkan dibanding pendahulunya, keripik jamur merang.
Meningkatnya popularitas jamur tiram (Pleurotus ostreatus), tak lepas dari laju produksi jamur tiram yang kian meningkat dari waktu ke waktu. Di daerah berhawa sejuk seperti Bandung, Wonosobo, Malang, dan sebagainya, budidaya jamur tiram baik dalam skala besar maupun kecil dapat ditemukan.
Meski baru populer dan dibudidayakan beberapa tahun belakangan, tetapi sebenarnya jamur tiram telah lama dikenal masyarakat. Secara alamiah, jamur ini biasa tumbuh pada batang kayu yang telah lapuk. Sebagian besar masyarakat Jawa mengenal jamur ini sebagai Jamur Barat. Di masa lalu, jamur ini pun telah dikonsumsi oleh masyarakat sebagai jenis sayuran. Namun karena jumlahnya sangat terbatas tidak banyak orang yang mengenal. Di samping masyarakat sendiri masih banyak yang diliputi kekuatiran karena tidak semua jamur aman dikonsumsi. Seiring dengan upaya dari berbagai pihak dalam mengupayakan keragaman bahan pangan, jamur tiram ini pun kemudian dibudidayakan.
Meski budidaya jamur tiram sudah menjamur, tetapi ternyata sambutan pasar belumlah menggembirakan, kecuali di beberapa kota besar di mana makan sudah menjadi gaya hidup.

Perhatian!
Kondisi ini tentu menjadikan pelaku budidaya jamur merugi. Sebab jamur yang telah dipanen hanya bisa bertahan selama satu hari. Dari sinilah kemudian beberapa pihak mencoba berinovasi menjadikan jamur sebagai makanan olahan yang lebih tahan lama. Akhlis, seorang pengusaha muda di Yogyakarta, merupakan salah satunya.
Dengan kreativitasnya, pemuda asal Cirebon, Jawa Barat ini, memperkenalkan keripik jamur dengan cita rasa dan kemasan tersendiri. Meski telah banyak pihak memproduksi keripik jamur, tetapi keripik jamur Akhlis dengan mudah dapat dibedakan dari yang lain. Mulai dari tempat penjualan, cara promosi, aneka pilihan rasa, hingga bentuk kemasannya, semua tampak baru dan unik.
Berbeda dengan keripik jamur umumnya yang dijual di toko atau rumah makan dalam kemasan plastic, keripik jamur kreasi Akhlis hanya dapat ditemukan di gerobag khusus dengan label “de jamour crispy”. Gerobag ini mangkal di bagian depan rumah makan yang juga dikelola oleh Akhlis. Setiap harinya gerobag ini beroperasi dari jam 14.00 hingga 21.30.
Selama lebih dari tujuh jam beroperasi, stok jamur di “de jamour crispy” dibiarkan dalam kondisi segar. Baru ketika ada pembeli, jamur segar tersebut dipotong-potong, dilumuri tepung, dan digoreng. Dengan cara pengolahan seperti itu, keripik jamur produksi Akhlis selalu tersaji dalam kondisi panas.
Tak hanya dalam hal penyajian. Kemasan keripik jamur di “de jamour crispy” pun sangat unik. Bukan dalam kemasan plastik tertutup rapat, melainkan kantong kertas berwarna merah menyala dengan informasi pilihan rasa serta teks yang unik menjadikan keripik jamur ini begitu menarik. (sta)
Keripik Jamur Aneka Rasa
Akhlis, sarjana Jurusan Seni Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini, sekarang memang tak lagi tampil di panggung seni pertunjukan seperti ketika masih kuliah dulu. Meski demikian bukan berarti ia lari dari panggung. Dengan berbekal keyakinan, keuletan, dan kreativitas Akhlis telah menciptakan panggungnya sendiri. Panggung entrepreneurship.
Dunia kewirausahaan yang saat ini ditekuninya, sebenarnya telah lama menjadi bagian dari aktivitas Akhlis. Sejak masih berstatus mahasiswa pemuda ini telah mulai menceburkan diri di dunia bisnis. Awalnya ia berbisnis jaket almamater, logo, serta stiker perguruan tinggi di mana ia menuntut ilmu. Usaha ini kemudian berkembang bukan hanya di kampusnya sendiri melainkan juga di perguruan tinggi lain.
Tahun 2005, Akhlis merintis bisnis baru di bidang kuliner dengan membuka warung siomay di garasi rumah kontrakannya. Keinginan terus belajar dan mengembangkan hal baru mengantarkannya pada bisnis kuliner yang lain, yaitu keripik jamur. Berbeda dengan keripik jamur yang telah lebih dulu diproduksi, keripik jamur kreasi Akhlis memiliki berbagai pilihan rasa. Ada rasa balado, keju, barbeque, sapi panggang, jagung bakar, jagung manis, hingga rasa ayam bakar.

Sekantung jamur
Sekalipun berbagai rasa telah ditawarkan, namun ke depan Akhlis masih ingin menciptakan keripik jamur dengan rasa yang lain. “Rasa lokal seperti pecel, gudeg, biar unik,” katanya. Hanya saja ia belum menemukan formulanya sehingga rasa-rasa tersebut belum dapat dihadirkan dalam keripik jamur produksinya. Sebagai seorang entrepreneurship, Akhlis merasa harus selalu menciptakan inovasi dari setiap produk yang ditawarkannya kepada masyarakat.
Kenapa ditanya kenapa keripik jamur yang menjadi pilihannya, Akhlis menjawab bahwa pangsa pasar keripik jamur saat ini telah terbangun. Berbeda dengan olahan jamur yang lain, seperti sate, bakso, gudeg, atau jenis makanan lain, yang kurang dikenal masyarakat. Hanya saja keripik jamur yang telah dikenal masyarakat tersebut, masih banyak dikemas secara konvensional dengan plastik yang tertutup rapat.
Dalam segi bahan baku, Akhlis tidak mengalami kesulitan. Saat ini budidaya jamur sudah banyak dilakukan oleh para petani di kawasan Kabupaten Sleman. Bahkan banyak di antara mereka yang mengalami kesulitan pemasaran. Dengan usaha keripik jamur yang dirintisnya ini, Akhlis mencita-citakan membangun kerja sama dengan para pelaku budidaya jamur tiram. Ia mengangankan membangun jaringan yang nantinya mampu menyerap hasil panen para petani sebagai bahan baku keripik jamur di outlet yang dikelolanya sendiri maupun yang dikelola pihak lain dengan cara waralaba.
Menurutnya bisnis jamur tiram hingga saat ini masih sangat terbuka. “Setidaknya ada tujuh rantai bisnis dalam usaha jamur ini,” katanya. Mulai dari training, pembibitan, produksi log (kantong benih), hingga produk olahan jamur. (sta)
November 17, 2009 pada 5:26 pm
saya tertarik untuk kerjasama buka de jamour crispynya mas,menghubunginya kemana ya???terima kasih