Dakperjaya Ing Kene

Cerkak Siti Aminah

“Aku kang duwe hak ngrabi kowe,” kandhamu tajem sinambi nduding aku.

“Salawase. Aku ra sudi dadi bojomu!” wangsulanku lirih. Ora kalah tajem.

***

September  2002. Kantor lembaga sosial. Sore. Jam lima kliwat telung menit.

“Wadhuh. Wis kliwat jam kantor, je,” wangsulane Salma. “Mbok kon mara sesuk wae.”

“Mesakake, Ma. Adoh-adoh saka njaban kutha. Isih cilik, lagi pat belas taun,” dhesege Tanti.

“Piye, Nung?” Salma unjal ambegan, noleh marang Nunung.

“Apa, ta? Hukum apa psikologi?” pitakone Nunung sinambi ngringkesi barang-barange.

“Hukum karo psikologi,” wangsulane Tanti. “Perkosaan. Hamil.”

“Oh. Ya wis ayo. Sedhela wae,” Nunung njengek. Nglereni pegaweyane.

  Lanjutkan membaca “Dakperjaya Ing Kene”

Out of The Blue

Cerkak Siti Aminah

“Kowe ora bisa mbegegeg ngukuhi karepmu!” celathumu sora.

“Iki dudu karepku! Karepe warga!” bengokku ora kalah sora.

“Warga sing endi? Warga Pak Darmin? Warga Pak Agus, beda neh karepe!”

Srengenge meh angslup. Sinambi lungguh ing gumuk pasir sakidul Lemahsewu, aku lan kowe padu. Rame. Dirungokake grumbul pandhan segegek kang katon regemeng ing mburiku, mburimu.

***

Maris mbenakake ransel ing gendhongan sinambi jumangkah tumuju lawang metu. Manyuk saka njero lobby bandara, krasa panase Pasay City nampeg rai. Ora beda karo Lemahsewu, batine. Ra nganti sepuluh menit candhake, dheweke wis ana sajeroning taksi kang bakal nggawa ambyur ing macete dalan tumuju Makati.

***

Lanjutkan membaca “Out of The Blue”

Sengara Mati

Siti Aminah

(Mekar Sari Kedaulatan Rakyat, 28 September 2014 dengan judul Ora Bakal Mati)

Telung minggu kepungkur

“Kita kudu percaya menawa sastra Jawa ora bakal mati!” celathune Adhi –ketua sanggar sastra Jawa- lantang, mungkasi sesorahe awan iku.

Aku nembe wae teka. Nembe mapan lungguh. Triman Laksana, sastrawan Jawa seniorku mesem meruhi tekaku.

Suwara keplok sanalika keprungu sajeroning ruang perpustakaan kang awan iku dadi papan patemonan.

Wolu las taun kepungkur

Sastra Jawa sengara mati. Mengkono ngendikane Pak Aye kang dina iku kajatah nggladhi para sastrawan mudha. Aku sarujuk karo panemu iku. Dakkira semono uga sliramu.

Kita padha dene nembe wae ambyur ing jadaging sastra Jawa. Patemon sastrawan iku dadi papan kita gladhen nulis. Ngiras pantes tepungan karo sastrawan senior kang wis kawentar ing jagading sastra Jawa, uga para redaktur kalawarti basa Jawa.

Aku manten anyar. Sliramu isih legan.

Embuh ing gladhen kaping pira, awan iku aku mbolos metu sadurungu rampung patemonan. Tanpa sangertiku, sliramu jebul nututi aku. Banjur bebarengan kita ninggalake papan patemonan. Bebarengan ngudhuni tlundhakan.

Lan ing papan iku, tanganmu kemlawe narik pundhakku. Banjur lambemu koktemplekake ing pipiku. Chps.

Tanpa tembung kang bisa kawetu, kita padha dene paham. Awit aku bisa maca pangrasamu saka mripatmu. Semono uga sliramu bisa maca isining atiku saka sunar mripatku.

Lanjutkan membaca “Sengara Mati”

Saat Remaja Mencari Cinta

Diskusi Remaja dan Permasalahannya

KAPUNG KITA – Melewati masa remaja, tidak selalu mudah. Perubahan yang mereka alami, memungkinkan banyak hal terjadi.

Hal itu terungkap dalam diskusi Forum Muda Kampung Bener di rumah bapak Yusup RT 09 , 1 Oktober 2010 lalu. Bersama Suharti, seorang pendamping remaja, para remaja ini mencoba mengurai persoalan sehari-hari, terutama berkaitan dengan perubahan yang mereka alami.

Dengan jujur para remaja ini mengungkapkan betapa banyaknya persoalan yang mereka hadapi. Masalah semakin bertambah karena mereka tak memiliki tempat untuk bertanya dan mendapatkan jawaban secara memadai.

Teman, menjadi pihak yang diandalkan untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Juga untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan. Celakanya secara umum, para remaja ini  berteman dengan sesama remaja yang   pengetahuan maupun pengalamannya relatif sama.

Sehingga bukannya jalan keluar yang didapatkan, melainkan ketersesatan karena mendapatkan informasi yang keliru.

Sebagai upaya menemani remaja melewati masa transisi inilah, Kampung Kita membangun  Forum Muda. Forum ini diharapkan mampu memberikan apa yang paling diharapkan remaja, yaitu cinta. Baik cinta dari orangtua, saudara, teman, maupun orang-orang di sekelilingnya.

am

Forum Orangtua Sepi Peminat

Para orangtua belajar energi dan gaya

KAMPUNG KITA – Forum Orangtua yang digelar setiap hari Minggu, minggu pertama setiap bulan, sepi peminat. Pertemuan yang membahas materi psikologis maupun akademis berkait dengan pendidikan anak ini rata-rata hanya dihadiri 15 orang.

Narasumber yang didatangkan dari berbagai lembaga maupun latar belakang ternyata tidak mampu menarik para orangtua untuk hadir dalam acara ini. Begitu juga Festival Anak yang digelar Juli lalu, tidak serta merta menjadikan orangtua tergugah keingintahuannya terhadap forum ini.

Angka tidak naik kelas di  yang cukup tinggi pada tahun 2010 sempat dijadikan momentum untuk memasarkan forum ini. Para ketua RT dan tokoh masyarakat didatangi. Bahkan tempat pertemuan pun dipindahkan agar dapat diakese oleh para orangtua secara lebih mudah. Namun semua itu tak membuahkan hasil.

Salah seorang warga mengungkapkan ketidaklarisan Forum Orangtua disebabkan yang hadir dalam acara ini harus benar-benar mendengarkan dan berkonsentrasi.

“Berbeda dengan ngaji, datang sambil ngantuk pun bisa,” katanya.

Pendapat itu bisa saja benar. Lalu apakah forum ini perlu diubah formatnya agar dapat menjaring lebih banyak orangtua? Setidaknya agar mereka yang datang tidak harus serius mendengarkan dan berkonsentrasi?

Tampaknya pengelola memang harus memilih. Sekedar mendatangkan banyak orang  atau meningkatan kapasitas orangtua yang datang. Dan Forum Orangtua memilih yang kedua.

am

Kentongan, Permainan, dan Hiburan

Menjelang pentas di Kelurahan

KAMPUNG KITA – Selasa malam, 12 Oktober lalu merupakan saat yang sangat berkesan bagi Nasrul, Ndaru, Mahen, dan teman-teman mereka. Malam itu, untuk pertama kalinya mereka mementaskan kebolehan memainkan musik kentongan di depan warga sekelurahan Bener.

Awalnya mereka adalah sekelompok anak yang dalam beberapa malam di bulan Ramadlan meronda, membangunkan warga untuk sahur. Melihat kekompakan ini, Kampung Kita berinisiatif  mengumpulkan mereka dan   mengajak latihan bersama.

Apa yang dilakukan Kampung Kita sama sekali bukan untuk membangun sebuah grup musik. Apalagi grup kesenian yang nantinya akan dibawa pentas ke mana-aman.

Tujuan utama Kampung Kita adalah agar anak-anak tersebut terwadahi. Dengan begitu kontrol terhadap kebiasaan dan perilaku mereka lebih mudah dilakukan, mengingat anak-anak tersebut adalah anak-anak yang sangat aktif dan penuh inisiatif. Termasuk dalam mencari jenis permainan dan hiburan.

Namun mendapatkan kesempatan pentas dalam Ulang Tahun Kota Yogyakarta jelas lebih     menyemangati mereka. Terlebih para pemuda RT 09 serta para ibu juga memberikan dukungan.

am

Mengganti Game Online dengan Dolanan Jawa

Anak-anak bersama Om Giman

KAMPUNG KITA – Minggu, 10 Oktober 2010, menjadi hari yang berisik bagi warga di sekitar rumah Bapak Yusup RT 09 Bener. Pasalnya hari itu sekitar 18 anak berkumpul memainkan musik, menyanyi, sambil menari.

Jangan dibayangkan alat musik yang mereka mainkan adalah gitar, keyboard, atau alat musik modern lainnya. Alat musik anak-anak ini hanyalah benda sederhana yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka. Seperti kentongan, ember, maupun botol.

Meski hanya dengan peralatan sangat sederhana, toh anak-anak itu tetap bersemangat dan ceria. Terlebih dengan kehadiran Tugiman atau Om Giman, pendamping anak dari Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, yang bercerita tentang kelompok musik    kentongan di kampungnya.

“Dulu, anak-anak di kampung saya minder, malu bertemu orang dari luar kampungnya. Tetapi setelah mereka diundang pentas di luar kampung, jadi lebih berani. Tidak minder lagi,” ungkap Om Giman.

Bersama Om Giman, anak-anak pun bermain musik sambil mendendangkan lagu dolanan anak seperti gundhul pacul,     padhang bulan, ilir-ilir, dan semacamnya.

Entah nantinya akan pentas di mana, yang jelas keasyikan mereka menabuh kentongan semoga mampu meredam hasrat bermain PS maupun game online di internet yang semakin mengkhawatirkan.

am